Apr 05 2005

SMS, Bisa Jadi Pembawa Bencana

Published by at 22:42 under Keluarga

Artikel ini dikutip dari Kompas Cyber Media – 4 April 2005

GARA-gara kalimat dalam layanan pesan singkat atau SMS telepon selulernya, Angelina Sondakh (27) harus putus dari pacarnya. Perempuan cantik, lajang, dan pintar itu memang sering menerima SMS yang isinya tidak sopan.

Tak terbilang jumlahnya. Ada yang masih agak sopan, cuma bilang ’sayang’, tapi ada juga yang sudah kurang ajar dengan ngajak em-el,” ujar Angel yang juga anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Em-el adalah singkatan populer dari make love atau kasarnya, ngajak tidur bareng. Kata Angel, pengirimnya tidak hanya datang dari orang-orang yang ia kenal, tetapi juga dari bapak-bapak yang terhormat anggota Dewan.

Pada awalnya, Putri Indonesia tahun 2001 itu mencoba bersikap tenang. “Sebagai Putri Indonesia saya merasa harus bersikap baik apa pun perlakuan orang pada saya. Tapi setelah terjun ke politik, saya merasa, yang tidak benar seperti ini harus disikapi dengan tegas,” lanjut Angel.

Menurut dia, biasanya orang-orang itu mengirim SMS berisi cerita-cerita lucu yang jorok. Ada juga yang mengajak pergi atau makan bareng. Kalau yang seperti ini ada yang memakai perantara dulu. “Jadi nomor pengirimnya tidak saya kenal, tetapi di SMS itu dibilang bapak ini mau ngajak makan bareng. Angel mau atau tidak,” paparnya lebih jauh.

Sikap tegas yang diambil Angel adalah menjawab dengan SMS juga agar ia tidak dikirimi lagi SMS-SMS seperti itu. “Saya tulis, ’Mohon maaf, saya minta dihargai. Jangan mengirim SMS seperti ini lagi’. Ada yang membalas, bilang maaf, tapi ada juga yang bilang, ’ih galak bener sih’.”

Menurut Angel, pada awalnya orang-orang itu mungkin iseng, mencoba-coba. “Coba ah ke Angel, bisa tidak’. Kalau yang seperti ini tidak disikapi tegas sejak awal, mereka akan terus kurang ajar.”

Ia mengaku pernah ada pengirim SMS yang tetap mengirim SMS-SMS yang tidak sopan. Kalau sudah begitu, Angel mengancam akan meneruskan SMS itu ke istri pengirimnya. Cara terakhir ini cukup jitu karena SMS kurang ajar itu langsung berhenti.

Sikap tegas itu harus ia ambil setelah belajar dari pengalaman. SMS seperti itulah yang mengganggu hubungan dengan pacarnya dulu. “Dia selalu bertanya ’ada hubungan apa kamu dengan pengirim SMS ini’. Kalau sudah begitu, saya harus menerangkan panjang lebar. Capek kan? Udah dilecehkan pengirim SMS, masih harus menjelaskan ke pacar,” sambung Angel bersungut.

PARA pakar teknologi informasi dan komunikasi tentu tidak suka mendengar orang menyalahkan teknologi untuk kasus seperti itu. Mungkin benar, bagaimanapun teknologi adalah alat yang bersifat netral, tergantung siapa yang menggunakan dan apa tujuannya.

Teknologi komunikasi seperti SMS merupakan terobosan yang murah dan cepat membuat berita dari belahan dunia lain sampai ke tangan kita dalam hitungan detik. Tetapi teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk melakukan apa saja, termasuk mengganggu hubungan pribadi antara dua orang terdekat, termasuk pasangan yang terikat dalam perkawinan.

Seperti dikemukakan psikolog Ratna Juwita, penetrasi telepon seluler, dengan salah satu fasilitasnya yaitu SMS, sedemikian kuat menembus ruang-ruang pribadi ketika seseorang memutuskan memiliki telepon seluler.

Pesan-pesan yang dikirimkan dapat melahirkan prasangka yang bisa menjadi sangat destruktif. Seperti dialami Ipung (27), ia pernah beberapa kali ribut besar dengan sang suami karena menerima SMS dari seorang teman pria di kantornya. Padahal, menurut dia, teman laki-laki itu tidak punya maksud apa pun padanya.

“Dia tahu saya ngefans banget sama Dewa (grup musik-Red). Nah malam-malam dia lihat ada Dewa di televisi, dia lalu SMS saya, bilang, ’Ada Dewa tuh di RCTI’. Waktu SMS masuk, saya enggak pegang ponsel, suami yang buka SMS-nya. Dia reply pakai ponsel saya, ’jangan ganggu istri orang!’ Saya enggak nyangka bisa kejadian seperti itu.”

Menurut penuturan Ipung, sang suami sering membaca SMS serupa dari temannya yang selalu memberitahu jika Dewa ada di televisi. Setelah tiga kali menjumpai SMS demikian, sang suami tampaknya naik darah dan secara spontan membalas SMS dengan gertakan. “Saya jadi minta-minta maaf pada teman itu, dan mengingatkan supaya dia tidak usah lagi mengirim SMS meski melihat Dewa main di stasiun televisi mana pun,” ujar Ipung.

Dia mengakui suaminya kerap mengintip isi SMS di ponselnya. Ia sering memergoki malam-malam ketika terbangun. “Saya sebenarnya tidak suka dia begitu. Tapi bagaimana lagi? Makanya kalau saya terima SMS yang bisa disalahartikan, saya cepat-cepat hapus daripada bermasalah,” sambungnya.

Pengalaman Ipung berbeda dengan Karina. Perempuan 34 tahun ini mengaku suaminya sama sekali bukan tipe suami yang selalu memata-matai istri. Ponsel bagi suaminya adalah barang pribadi sehingga Karina yakin sang suami tidak pernah mengintip isi ponselnya.

“Saya enggak akan suka kalau suami saya buka-buka SMS di ponsel saya. Tapi saya sering banget lihat SMS-SMS di ponsel suami. Pengin saja, bukan karena curiga,” papar Karina yang sangat yakin mengenal baik karakter sang suami sesudah delapan tahun pacaran.

Barangkali memang sebaiknya tidak membuka ponsel pasangan masing-masing, kecuali dengan kesepakatan yang sudah dibuat. Akan tetapi, sikap salah satu pasangan yang berubah, intuisi istri atau suami, membuat banyak hal yang tidak diinginkan setiap pasangan dalam suatu rumah tangga terungkap melalui SMS.

Seperti dialami Rinanti (39). Ibu tiga anak yang sudah 15 tahun menikah dengan Baskara (keduanya bukan nama sebenarnya) itu terkejut melihat perubahan sikap suaminya yang menjadi seperti remaja. “Dia menjadi suka sembunyi-sembunyi kalau menulis SMS. Ditanya marah. Semua omongan saya dianggap menyinggung perasaannya,” kata Rinanti.

Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga setelah memutuskan keluar sebagai guru bimbingan dan penyuluhan (BP) di sebuah sekolah di Bekasi itu merasa tidak lagi mengenal watak suaminya. “Ia sungguh-sungguh berubah. Ternyata banyak sifat suami yang saya tidak pernah tahu, meskipun saya merasa sungguh-sungguh sudah mengenalnya. Saya merasa sangat asing melihat tingkahnya,” keluh Rinanti.

Ketika ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, suaminya marah besar, lalu mengungkit semua kekurangan sang istri. Anak-anak yang sebelumnya sangat dekat dengan sang ayah juga sering kena getah. “Tiba-tiba dia bilang saya suka menindas dia, saya dominan, saya tidak pernah menyenangkan hatinya, saya cerewet, sampai hal-hal yang bersifat fisik, katanya saya gendut, bau, ah pokoknya segala macam,” kata Rinanti.

HAL serupa terjadi pada Restu. “Entah mengapa suatu malam saya gelisah, seperti ada yang menarik-narik saya untuk membuka ponsel suami,” ujar Restu. Di situ ia membaca SMS-SMS suaminya dengan seorang perempuan, sebut saja, Durga. Mereka bahkan janjian ketemu di sebuah restoran cukup mewah. “Saya sangat terpukul,” ujar Restu.

Ia mengakui hubungannya dengan sang suami memang kurang harmonis belakangan ini karena terlalu banyak pekerjaan di kantor, sebuah lembaga keuangan, sehingga ia harus sering terlambat pulang. Sebenarnya, menurut Restu, ritme pekerjaannya sudah diketahui sang suami sejak mereka masih pacaran.

Sang suami tidak keberatan dengan pekerjaan Restu. Ibu tiga anak itu bersyukur karena sikap suami yang membuat dia bisa menjadi dirinya sendiri dan mewujudkan aspirasi lewat karier yang terus menanjak.

Akan tetapi, seiring dengan perjalanan perkawinan yang mencapai tahun ke-20, banyak perubahan terjadi. Keluhan demi keluhan banyak dilontarkan sang suami. Hubungan mereka mendingin, meskipun dari luar para tetangga dan teman-teman di kantor melihat keluarga ini harmonis.

“Saya tidak tahu apa maunya karena semua argumen saya dipatahkan. Semua yang saya lakukan salah. Ia ingin saya keluar kerja. Ia bilang tidak suka penampilan saya dan tidak mencintai saya lagi.”

“Kali lain ia memuji pekerjaan saya, tetapi ia bilang mau menyenangkan diri sendiri. Kali lain lagi ia bilang tak ingin keluarganya berantakan karena ia mencintai kami semua. Ini sungguh membingungkan,” lanjut Restu yang tahu suaminya satu-dua kali kencan dengan Durga.

Restu sangat memahami kondisi psikologis sang suami. Namun ia tidak dapat menerima pelarian-pelarian seperti itu karena tidak akan menyelesaikan persoalan mereka, tapi malah memunculkan persoalan baru. Dialog antara keduanya terus berlangsung dan Restu yakin mereka akan mampu mengatasi persoalan ini.

Baik suami Rinanti maupun suami Restu tampaknya mengalami masa-masa jenuh dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dalam situasi seperti itu, SMS menjadi alat untuk menemukan oasis semu yang menyenangkan, tetapi sebenarnya palsu.

Suami Rinanti kemudian mengakui, sudah beberapa bulan terakhir dihubungi kembali teman lama yang katanya pernah menyimpan cinta ketika masih SMA. Perempuan itu, sebut saja Sarpakenaka, juga sudah menikah dan kini menjadi ibu dua anak. Suaminya sedang berada di luar negeri. Baskara mengaku, “Saya tidak tahu ia dapat nomor saya dari mana.”

“Saya sebenarnya tidak punya perasaan apa-apa pada Sarpa,” lanjutnya. Ia hanya merasa kasihan karena, kata Sarpa, rumah tangganya tidak harmonis. Ia ingin membantu meringankan beban temannya itu.

“Saya sedih karena Rinanti tidak mempercayai saya. Saya juga belum pernah bertemu dengan Sarpa, apalagi ia tinggal di luar kota. Saya kan tidak pernah pergi dari rumah tanpa izin istri dan anak-anak. Saya ingin Rinanti yakin saya tidak akan pernah meninggalkan dia dan anak-anak. Hidup saya adalah keluarga ini, bukan yang lain,” tegas Baskara.

Rinanti memang menjadi kian sulit diyakinkan setelah menemukan SMS Sarpa yang isinya amat tidak pantas ditulis oleh orang yang “terhormat”. “”Mosok ia menulis hal-hal yang sangat intim. Saya yakin pada Baskara, tetapi apakah ia bisa terus-terusan baik kalau dihujani dengan SMS seperti itu,” keluhnya.

Namun Baskara juga punya jawaban. “Kalau saya berniat tidak baik, tentu SMS itu saya hapus supaya Rinanti tidak tahu. Saya tidak membalas SMS itu karena saya juga terkejut membaca bunyinya.”

Bagi Rinanti, dunia maya SMS menjadi seperti perselingkuhan dalam realitas yang sudah dilakukan Baskara. Ia merasa sangat tersiksa mendapati kenyataan suaminya tidak setia pada janji perkawinan mereka.

“Hidup saya menjadi tidak tenang setelah SMS-SMS itu. Saya merasa Sarpa memang punya niat tidak baik pada kami. Ia tidak suka melihat kebahagiaan dalam kehidupan kami yang sederhana,” katanya.

Belakangan ini hubungan Rinanti dan Baskara kembali membaik. Rinanti mencoba bersikap lebih kalem. Ia juga tidak lagi menyambut suami pulang kerja dengan daster lusuh.

Baskara tampaknya telah kembali pada kesepakatan awal mereka, dengan saling membaca SMS yang masuk ke ponsel keduanya. Namun dalam sejarah Rinanti pribadi, Sarpa telah tercatat sebagai “duri” yang berniat merobek perkawinan mereka.

MENURUT Ratna, pemilik ponsel kadang seperti mempunyai alasan untuk menghubungi atau dihubungi secara langsung atau melalui SMS kapan pun. Oleh karenanya, tak heran kalau SMS kini juga menjadi fasilitas berbagai hal negatif. Pesan yang disampaikan bisa bersifat teror dan sangat mengganggu.

“Mau tak mau jalan keluarnya sementara ini ya menyalakan ponsel pada jam-jam tertentu saja karena pemilik ponsel sejauh ini tidak bisa memblok SMS seperti halnya memblok spam di surat elektronik,” ujar Ratna.

“Kalau kerap menerima SMS yang tidak patut, sebaiknya dikomunikasikan dengan pasangan, khususnya yang sudah berkeluarga,” lanjutnya. Tampaknya penjelasan Ratna masih harus diberi catatan, yakni hubungan dalam keluarga itu dilandasi kejujuran, kesetiaan, dan ketulusan.

“Karena ada juga orang yang bisa saling membuka ponsel pasangannya, kalau ada SMS yang kurang layak kan bisa jadi masalah. Tapi kalau sudah dikomunikasikan sebelumnya dampaknya bisa lebih dikontrol,” saran Ratna.

Ratna mengingatkan persoalan etika yang bisa dibilang terabaikan dalam berinteraksi dengan SMS. Berdasarkan pengalamannya, Ipung menyarankan, “Etika ber-SMS harus tetap diingat, seakrab apa pun hubungan yang dimiliki, terlebih kalau yang mengirim SMS itu orang yang sudah berkeluarga kepada teman yang sama-sama sudah berkeluarga.”

Menurut Ipung, rambu-rambu dan sopan santun ber-SMS tidak sekadar menghormati orang yang dikirimi SMS, tetapi juga pasangan dari orang tersebut. Nah, camkanlah! (ARN/SF/MH)

No responses yet

Comments are closed at this time.

Trackback URI |


Daily Wisdom

Today's Quote



Anda adalah pengunjung ke

sejak 1 Januari 2008